oleh

7 Tantangan Generasi Milenial

Nama generasi milenial belakangan ini ibarat primadona di media sosial. Ada anak gawl dikit, dikatain, “Wah, anak milenial.” Ada anak rempong dikit, dikatain, “Dasar, anak milenial.” Tapi, yang nga diketahui sama si tukang ngata-ngatain adalah betapa sesungguhnya dia juga termasuk anak dari generasi milenial.

Disebutkan banyak peneliti, generasi milenial adalah kelompok pemuda yang lahir di antara tahun 1980 hingga tahun 2000-an. Artinya, di tahun 2018 ini, anak-anak generasi milenial berusia antara 18 hingga 38 tahun~

Sampai di sini, apakah kamu termasuk generasi milenial?

Dari 200 jutaan penduduk Indonesia, 81 juta di antaranya berasal dari generasi milenial. Dan, dari 81 juta orang ini, seluruhnya sangat mungkin berbagi masalah yang sama.

Lapangan Pekerjaan Semakin Sempit

Per Agustus 2017, jumlah pengangguran di Indonesia meningkat hingga 7 juta orang. Jika dibandingkan dengan setahun sebelumnya, kenaikan ini adalah sebesar 10.000 orang.

Harga Sembako yang Menjulang

Kenaikan Sembilan Bahan Pokok, alias sembako, rasa-rasanya memang seperti kenaikan berat badan: entah kapan turunnya. Hingga Januari 2018, di beberapa daerah, kenaikan ini masih terasa. Bahan-bahan pokok yang mengalami kenaikan adalah beras (13.000 rupiah per kilogram), telur ayam (20.500 rupiah per kilogram), dan daging ayam (34.500 rupiah per kilogram).

Kemiskinan

Statistik kemiskinan di Indonesia memang menunjukkan penurunan. Namun, penurunan ini dikhawatirkan kelak terjadi lebih lambat di masa yang akan datang. Maka, tyda heran kalau generasi milenial jadi harap-harap cemas soal masa depan mereka.

Sikap Politik

Berdasarkan hasil survei dari Alvara Research Center tahun 2014, dalam gambaran sebuah pemilihan umum, generasi milenial di Indonesia cenderung menjadi pemilih yang bersikap swing (berubah-ubah) dan apathetic (apatis, tidak peduli).

Kesenjangan Kepercayaan Diri

Generasi milenial hadir di tengah pendidikan memadai yang menempa mereka menjadi manusia kreatif. Tak jarang, kelebihan ini membuat mereka menuntut diperlakukan istimewa.

Di sisi lain, ada juga generasi milenial yang bawaannya minder melulu. Akibatnya, tingkat stres dan depresi meningkat pesat.

Konflik Agama

Di zaman yang kian terbuka, mau nga mau, generasi milenial cenderung punya peluang menghadapi banyak konflik, termasuk konflik-konflik agama. Nga melulu soal pertikaian antaragama, masalah-masalah yang muncul di dalam suatu agama itu sendiri pun patut menjadi perhatian.

Tren Pernikahan Berubah

Menurut riset dari Bridestory, tren pernikahan di generasi milenial telah berubah.

Kalau dulu kita tahunya pernikahan itu kebanyakan di-PJ-in sama orang tua mempelai, ternyata sekarang ini mempelai pria dan wanitalah yang cenderung menjadi otak utama rencana pernikahan. Mereka pun bersikap lebih aktif dalam hal pembayaran biaya menikah.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of