oleh

Pemerintah Paparkan Alasan Rupiah Kembali Melemah

Senayanews – Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi bergerak melemah 10 poin menjadi Rp15.160 dibandingkan posisi sebelumnya Rp15.150 per dolar AS.

Pelemahan nilai tukar rupiah hari ini dipengaruhi oleh kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengesankan pemerintah belum menilai pelemahan rupiah membawa risiko serius. Menurut dia, depresiasi rupiah belum berdampak signifikan secara riil.

“Jadi ini sebenarnya gemuruhnya yang hebat, sebenarnya dampak riilnya itu enggak terlalu besar,” kata Darmin di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, pada Jumat (5/10/2018).

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini dipengaruhi oleh sentimen global. “Perkembangan nilai tukar rupiah tentu saja dipengaruhi oleh sentimen global. Hari ini ada kenaikan US Treasury Bill yang cukup tinggi jadi 3,23 persen untuk tenor 10 tahun,” kata Perry di Jakarta, Jumat (5/10/2018).

Meski demikian, Darmin menegaskan pemerintah tetap mewaspadai dampak pelemahan rupiah terhadap inflasi. Sebab, lonjakan harga produk impor bisa mengerek nilai jual barang domestik yang bahan bakunya dari luar negeri.

“Rupiah melemah 10%, dihitung ke porsi impor di ekonomi. Impor kita kira-kira 30% dari ekonomi. Memang bisa agak tinggi pengaruhnya ke inflasi, bisa 2,5% atau 3%,” kata dia.

Perkiraan demikian, kata Darmin, masih aman sebab inflasi tidak melampaui 3%. “Ada kenaikan, tetapi belum banyak. Saya belum bisa bilang berapa, karena harus dihitung dulu dalam inflasi inti itu sebenarnya berapa persen yang impor,” kata dia.

Ilustrasi Grafik Rupiah Melemah

Pendapat Darmin selaras dengan hasil survei Bank Indonesia (BI). Indeks Keyakinan Konsumen pada September 2018 masih sebesar 122,4 atau lebih tinggi dari bulan sebelumnya: 121,6. BI menyimpulkan keyakinan konsumen didorong persepsi positif pada ketersediaan lapangan kerja dan dibuktikan dengan peningkatan pembelian barang tahan lama.

Namun, hasil survei BI juga mencatat konsumen khawatir kenaikan harga terjadi pada 3 bulan terakhir tahun ini. Indeks Ekspektasi Harga 3 bulan mendatang ialah 177,1 atau naik dari bulan sebelumnya, yakni 172,6.

Rupiah di pasar spot berdasarkan data Bloomberg, berakhir pada Rp 15.183 per dollar AS, turun tipis dari 0,03 persen dari kemarin pada 15.179. Sementara kurs referensi jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia hari ini, rupiah melemah ke posisi Rp 15.182 per dollar AS, dibandingkan kemarin pada 15.133.

Meski menilai pelemahan rupiah belum berdampak serius, Darmin mengakui perhatian pemerintah sedang tertuju pada dinamika global yang terus memicu ketidakpastian. Ia mengatakan dampak lanjutan perang dagang AS dengan Cina masih sulit diprediksi.

“Perang dagangnya bukan makin reda, mereka makin variatif, makin dikembangkan macam-macam cara sehingga tidak sekedar ‘saya kenakan tarif sama barang anda’. Kan tadinya cuma gitu,” kata dia.

Sementara sentimen perang dagang antara AS dan China yang masih terus berlangsung juga menyebabkan penguatan dollar AS. Selain itu faktor geopolitik di Eropa juga tak bisa dihindari. “Faktor-faktor itu memengaruhi perkembangan nilai tukar rupiah,” ujar Perry.

Darmin menambahkan, pemerintah sedang menyiapkan langkah-langkah baru yang akan diambil dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global saat ini.

“Langkah-langkahnya tidak lagi sekedar jangka pendek. Apa saja itu? Ya, tunggu saja nanti kami akan jelaskan,” ujarnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga mengisyaratkan pemerintah akan merespons dinamika global yang memicu depresiasi rupiah dengan kebijakan baru.

Menurut dia, pemerintah, Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memantau efek fluktuasi ekonomi global dan penguatan dolar AS terhadap kondisi di dalam negeri.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of