oleh

INDEF Sebut Kasus Duniatex Cermin Kondisi Industri Tekstil Nasional

SENAYANEWS.com – PT Delta Merlin Dunia Textile (DMDT), entitas perusahaan tekstil Duniatex, habis-habisan dibuat anak usahanya, PT Delta Dunia Sandang Tekstil (DDST), usai kasus gagal bayar bunga surat utang sebesar US$11 juta.

Sampai batas waktu yang ditentukan 10 Juli 2019, DDST masih tak mampu membayar bunga atas obligasi global senilai US$260 juta. Sedangkan DMDT selaku induk DDST juga memiliki utang yang akan segera jatuh tempo pada September 2019. Nilainya juga tak bisa dibilang sedikit, yakni US$5 juta.

Ekonom Indef Faisal Basri mengisyaratkan kondisi kelompok usaha Duniatex merupakan cerminan dari industri tekstil nasional yang tengah babak belur. Disebut babak belur karena dukungan pemerintah yang kurang, terlihat dari regulasi yang menghujani industri tekstil.

Baca juga : Industri Tekstil Tumbuh Positif, Duniatex Justru Gagal Bayar Bunga Obligasi

Dibandingkan negara-negara lain, regulasi di industri tekstil nasional termasuk yang paling banyak dan paling ketat. Tidak kurang dari 70 regulasi membatasi ruang gerak industri tekstil nasional. “Wajar, mereka (pelaku industri) ngos-ngosan,” jelas Faisal.

Belum lagi, aturan pemerintah terkait penerapan Pajak Penghasilan (PPh). Pajak tersebut dibayar di muka, yang dua kali lebih tinggi. “Ini kan membebani, jadi masalah cashflow (arus kas) sendiri,” tambahnya.

Baca juga : Startup Indonesia Besar Karena Investasi Asing

Di lain sisi, industri memandang bunga kredit perbankan semakin mahal beberapa waktu terakhir. Berbeda dengan di luar negeri yang diklaim jauh lebih murah dari Indonesia.

Diketahui, Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuan sebanyak enam kali sepanjang tahun lalu menjadi 6 persen. Hal itu mempengaruhi beban biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan.

“Di luar negeri lebih murah, katakan lah Singapura dan Thailand bunga kreditnya lebih murah,” imbuhnya.

Beruntung, BI tak menaikkan suku bunga acuan sejak Januari-Juni 2019. Bank sentral justru memangkas suku bunga acuan pada Juli 2019 sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of