oleh

Ekonomi Dunia Dibayangi Resesi, Benarkah Akan Terjadi?

JAKARTA, SENAYANEWS.com – Ancaman resesi ekonomi global saat ini menghantui seluruh dunia. Sejumlah ahli ekonomi dan investasi ada yang menganggap resesi akan benar-benar terjadi, walaupun ada yang tak sependapat dengan itu.

Ekonom Raden Pardede pun menyoroti perdebatan yang terjadi menyoal bayang-bayang resesi. Menurutnya ada beberapa faktor yang menimbulkan kekhawatiran bahwa resesi akan terjadi.

“Satu, siklus ekspansi ekonomi Amerika sekarang ini sudah lebih dari 10 tahun, yaitu ekonomi Amerika mengalami pertumbuhan secara terus menerus sejak Juli tahun 2009,” kata dia dalam catatannya yang diterima Jakarta, Rabu (4/9/19).

Baca Juga : Neraca Dagang RI Defisit 60 Juta Dolar AS pada Juli

Itu menurutnya siklus bisnis terpanjang dalam sejarah perekonomian AS, di mana biasanya sesudah ekspansi akan ada kontraksi. Siklus ini masuk dalam persepsi dan pertimbangan para ahli dan investor.

“Kedua, yield curve, slope imbal balik investasi menjadi negatif, yaitu bunga investasi jangka panjang di bond pemerintah lebih rendah dari jangka pendek. Mengindikasikan pesimisme terhadap ekonomi jangka menengah panjang, juga pertanda resesi kedepan,” jelasnya.

Sebanyak dua faktor itu yang menjadi landasan para ahli dan investor untuk mengindikasikan resesi akan terjadi.

“Sementara data-data ekonomi di Amerika secara umum masih cukup solid, tingkat pengangguran masih rendah, harga rumah naik. Data ini tidak mendukung adanya resesi. Namun tingkat kecemasan dan ketidakpastian naik,” jelasnya.

Baca Juga : Perang Dagang Kian Tekan Ekonomi China, Siapa yang untung?

Ekonomi di luar AS yang sekarang sedang mengalami slow down, termasuk Uni Eropa, China, Jepang/Korea, dan sebagainya pun menjadi perhatian, karena negara-negara tersebut mengalami beberapa hal.

“Profit menurun, volume perdagangan menurun, index pengangkutan kapal turun, harga tembaga turun, semua menggambarkan slow down. Kecemasan karena trade war dan currency war, di tengah geopolitik yang tidak kondusif yang di-trigger oleh (Presiden AS) Trump” ujarnya.

“Apapun itu, buat kita paling penting selalu waspada, siapkan payung sebelum hujan. Hujan akan datang, apakah hanya gerimis atau badai kita belum tahu kapan. Tapi bersiap selalu lebih baik,” tambahnya.

Baca Juga : Apple Usung Nama iPhone Pro ? untuk Triple Kamera

Menurut Mentri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bahwa; pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terjaga di kisaran 5% merupakan hal yang cukup positif. Hal ini mengingat hampir semua negara di dunia mengalami pelemahan ekonomi hingga merevisi target pertumbuhannya.

Sri Mulyani mengatakan kondisi global saat ini masih mengalami ketidakpastian. Salah satunya gejolak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

“Manufaktur global turun masuk ke dalam posisi melemah. Kemudian kalau lihat proyeksi ekonomi yang sudah terlihat dalam tiga kali revisi dan semuanya revisi ke bawah,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTA di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (26/8/19).

Sri Mulyani mengatakan, saat ini risiko memanasnya perang dagang AS-China masih terlihat. 

Baca Juga : Investasi Melorot, INDEF Minta Jokowi Segera Rombak Tim Ekonomi

“Dari sisi sumber risiko global yang makin meluas terlihat dari ketidakpastian pengambilan kebijakan ekonomi global. Sekarang RRT sampaikan hal yang keras mereka perhitungkan hubungan dengan AS memburuk,” katanya.

Dia menjelaskan, perang dagang tersebut membuat harga komoditas ikut menurun. Sejumlah negara pun akhirnya menurunkan suku bunga acuannya.

“Volatilitas gejolak global ditransmisikan berbagai indikator terutama Dow Jones, treasury dolar AS 10 tahun terus mengalami penurunan indikator reliable prediksi resesi di AS selama 50 tahun terakhir mengikuti US$ bonds 10 tahun dikaitkan jangka lebih pendek,” tutupnya.


Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of