oleh

Pappaseng To Riolo Sebagai Sumber Kesadaran Hukum Orang Bugis Makassar

SENAYANEWS.com – Sebuah disertasi yang cukup unik dan menarik untuk dikaji yang diangkat oleh Saudara H. A. Singkeru Rukka dan mengantarkannya meraih gelas Doktor Ilmu Hukum pada fakultas Hukum Universitas Hasanuddin akhir tahun 2019, sebuah pemikiran dalam rangka mempertahankan nilai-nilai budaya masa lalu dengan ikhtiar mengembalikan kejayaan orang Bugis Makassar yang banyak hilang sehingga banyak melahirkan orang-orang yang tidak bijak dalam melaksanakan aktivitasnya sementara dalam pesan leluhur terdahulu banyak mengandung makna yang tersirat.

Dalam ujian disertasinya Saudara H. A. Singkeru Rukka yang biasa kami panggil dengan sebutan petta aji terutama dikalangan milenial teman-teman seangkatan dan dibawahnya, berhasil mempertahankan disertasinya dengan judul “Pappaseng to riolo sebagai sumber kesadaran hukum orang bugis Makassar” pada saat ujian promosi doktor pada tanggal 26 Desember 2019 jam 13.00 – 15.00 di Ruangan Promosi Doktor Prof. Mr. Andi Zainal Abidin Farid, SH, lantai 3 fakultas hukum Universitas Hasanuddin.

di hadapan penguji dengan Tim Promotor sekaligus penguji Prof. Dr. H. Aminuddin Salle, SH.,MH. (Promotor) Prof. Dr. A. M. Yunus Wahid, SH.,MH. (co-promotor), dan Prof. Dr. A. Suryaman Mustari Pide, SH.,MH. (co-promotor), Prof. Dr. Farida Patittingi, SH.,M.Hum. (penguji sekaligus ketua sidang), Prof. Dr. Abdul Maasba Magassing, SH.,MH., Dr. Wiwiek Heryani, SH.,MH. (penguji) dan adalah Prof. Sadjito (penguji eksternal Guru Besar Fakultas Hukum UGM)

Baca Juga:Sandi Uno : CEO Harus Memiliki Tiga Karakter Pemimpin

Dihadapan penguji penulis mampu memmpertahankan disertasinya dengan menjelaskan hal yang terkait :Hakikat Hukum Pappaseng
Beberapa poin terkait dengan dengan pappaseng dari segi hukum
a. Dimensi Hukum Pappaseng
Pappaseng yang sejatinya memiliki banyak dimensi, kemudian akan dilihat dari perspektif hukum. namun sebelum masuk dalam dimensi hukum itu, terlebih dahulu harus dijelaskan mengenai apa itu pappaseng.
Jadi dalam pemahaman ini, ada dua hal yang harus dipisahkan terlebih dahulu. Antara pemaknaan paseng yang pemaknaannya menyangkut hal-hal terkecil dalam kehidupan, bisa saja paseng ini bersifat atau memiliki norma-norma tertentu. Misalkan paseng tentang pernikahan, tentu menyangkut dengan norma-norma mengenai pernikahan. Begitu juga paseng tentang hal-hal lainnya, dia selalu bersinggungan dengan norma yang ada dalam konteks masyarakat tempatnya berasal. Untuk membagi dimensi mengenai hukum pappaseng, maka dari itu dalam tulisan ini penulis membaginya atas tiga bagian.

Passuro atau Perintah
Passuro merupakan wujud perintah dari implementasi nilai-nilai yang ada dalam pappaseng. Passuro atau perintah ini tersebar dan banyak ditemukan dalam pappaseng, namun tidak sampai disitu saja. Perintah yang diartikan di sini juga mencakupi hal yang diwujudkan dalam perilaku-perilaku masyarakat Bugis dan Makassar
Penggunaan kata ‘passurona’ dari pappaseng di atas, harus dimaknai sebagai suatu perangkat dalam mengatur dan mengelola pemerintahan yang ada pada satu negeri atau pusat pemerintahan. Dengan demikian, dapat diartikan jika sebenarnya pappaseng telah menlingkupi banyak lipatan-lipatan peristiwa dalam kehidupan orang-orang Bugis dan Makassar.

Pangamparang atau Larangan
Pangamparang atau larangan atas kelakuan yang bisa dan tidak baik untuk dikerjakan. larangan itu, tidak hanya ada pada sistem prilaku saja, melaikan juga ada pada wujud ide orang-orang di dalamnya.
Pangaja’ atau Nasehat
Bagi Jemmain (2011) Pada mulanya, pappaseng diucapkan dan dituturkan. Akan tetapi, setelah masyarakat Bugis-Makassar mengenal tulisan, pappaseng itu ditulis pada daun lontar. Dalam perkembangan selanjutnya, seiring dengan kemajuan peradaban masyarakat Bugis-Makassar, pappaseng ditulis di atas kertas (dibukukan). Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mewariskannya kepada generasi muda. Pappaseng dalam bahasa Bugis-Makassar sama maknanya dengan kata wasiat dalam bahasa Indonesia. Pappaseng sinonim dengan kata pappangaja yang bermakna ‘nasihat

Baca juga: Jelang Natal dan Tahun Baru, Sandiaga Berbagi Kasih Di Panti Asuhan Bersinar

Namun, kedua kata ini memiliki nuansa makna yang berbeda. Pappaseng lebih menekankan ajaran moral yang patut dituruti, sedangkan pangaja lebih menekankan pada suatu tindakan yang harus dilakukan atau dihindari. Sebagai salah satu produk budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Bugis-Makassar, pappaseng mampu mengetuk pintu hati dan pikiran yang memerintahkan agar orang berlaku jujur dan berpikir menggunakan akal sehat. Hal ini dimaksudkan agar masyarakatnya berbuat patuh, teguh memegang pappaseng, senantiasa bersemangat untuk menjalani hidup dan kehidupan sehingga dapat menerjemahkannya ke dalam usaha atau amal perbuatan.
b. Bentuk Nilai Hukum Pappaseng
a) Elong Kelong

Pappaseng, memiliki bentuk yang mewujud dalam kesamaan-kesamaan dari berbagai dimensi, seperti kesusastraan, nilai bahasa dan nilai tawar. Belakangan ini, pappaseng justru hanya dilihat dari segi susatranya saja, padahal pappaseng memiliki banyak dimensi yang mampu menguak beberapa peristiwa di dalamnya. Seperti yang sering kita kenal dengan elong-kelong, yag jika dilihat dari terjemahannya berarti lagu untuk dilantunkan.

Elong Kelong merupakan salah satu jenis karya sastra lisan Bugis-Makassar yang memuat ungkapan-ungkapan pendek tentang falsafah hidup orang Bugis-Makassar. Adakalanya elong kelong berisi pesan, petuah, cinta, sanjungan, kritikan, benci dan rindu, kisah, dan lain-lain. Elong kelong merupakan media yang paling efektif untuk mengungkapkan ekspresi jiwa seseorang pada zaman dulu tentang pikiran dan perasaannya. Pikiran dan perasaan yang hendak diungkapkan disampaikan dengan jalinan kata yang indah dengan muatan makna yang dalam.
b. Galigo
Galigo yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan epos yang terkandung dan ada di kitab La Galigo. Belakangan, beberapa orang justru mengartikan jika sure’ La Galigo merupakan sebuah epos penuntun yang dituliskan oleh Colli Pujie, Arung Pancana Toa. Galigo terdapat sederet makna yang memiliki arti dan interpretasi sendiri, ia justru diidentifikasikan sebagai sebuah karya sastra.
c) Pau-pau ri Kadong
Pau-pau ri Kadong ialah cerita-cerita rakyat yang mengandung sifat lagenda serta peristiwa-peristiwa luar biasa. Pada mulanya mereka menulis di atas daun lontar dengan alat yang tajam, seperti pisau. Di Sulawesi Selatan terdapat dua macam huruf, yakni huruf sulapak eppa dan huruf jangan-jangan

Baca juga: Sandi Uno : Industri Halal Bukan dari Sertifikat

Setelah periode sastra Galigo berhenti, muncul kemudian bentuk sastra Bugis-Makassar yang berbeda dengannya. Perbedaan tersebut tidak hanya dari segi tema, latar, dan konvensinya saja melainkan juga dari segi toko serta cerita yang diceritakannya. Demikian pula persepsi masyarakat dalam memandang atau menghargai kedua bentuk sastra tersebut sangat berbeda. Periode kedua ini, pakar menyebutnya zaman tomanurung atau periode lontara yaitu sebuah zaman yang ditandai dengan munculnya sebuah bentuk pustaka Bugis-Makassar yang berbeda dengan pustaka (Sastra) Galigo. Dalam periode ini muncul atau berkembang dua bentuk pustaka Bugis-Makassar, ada yang tergolong karya sastra dan ada yang bukan karya sastra. Tergolong karya sastra disebut tolok, dan yang bukan karya sastra disebut lontaraq. Masa pertumbuhan kedua bentuk pustaka ini diperkirakan abad ke-15 hingga awal abad ke-20.
d. Werekkada

Pappaseng dalam bentuk werekkada (perkataan atau kelompok kata yang khusus digunakan untuk menyatakan suatu maksud dengan arti kiasan), yaitu: “Iyamakkunraiyé rirapangngi aju mamata. Naiya worowané rirapangngi wara api namasuwa. Namauni mamata ajuwé, naddeppéri wara apiyé nanrémuwatu api paggangkanna” Artinya: perempuan itu diibaratkan kayu basah dan laki-laki itu diibaratkan api yang menyala. Walau kayu masih basah bila terus-menerus berada didekat api yang menyala maka kayu-kayu tersebut akan terbakar juga.
c. Sanksi yang Ditimbulkan

Dalam melihat sanksi yang ditimbulkan dari adanya pappaseng sebagai sumber hukum. Terlebih dahulu penulis harus memberikan pemaknaan kapan orang-orang dijatuhi sanksi, dan bagaimana sanksi itu berlaku. Sanksi dalam hal ini sangat identik dengan yang dimaksud hukuman dalam hukum positif.
Sangksi fisik berupa
Ri gelli: di kena marah untuk diingatkan
Ri reppung: di tangkap untuk di bina
Ri gora: di rampas harta
Ri pali: di asingkan
Ri lamung: di gunduli batu dibuang ke air
Ri paggenoi wennang cella: di potong leher
Namun, yang menjadi pembeda dalam sanksi pappaseng ini karena menyangkut dengan alam bawah sadar seseorang. Artinya sanksi yang ditimbulkan dekat dengan mitos yang ada dalam masyarakat Bugis dan Makassar sendiri. Sanksi psikis berupa, Mabusung atau Durhaka

Baca JugaKAHMIPreneur : Launching dan Bedah Buku Menanam Semangka di Bangka sekaligus Peluncuran Agropreneur

Mabusung biasa disebut dengan durhaka. Konsep mabusung apabila dipertahankan dapat membawa kepada eksistensi budaya yang bermartabat karna lahir dari rahim budaya asli suku Bugis dan Makassar yang mengantarkan kepada perbuatan yang lebih baik, baik dalam persfektif adat maupun agama. Dalam konsep mabusung selalu mengajarkan nilai-nilai kesopanan, ketaatan, menyangi, mencintai alam dan nenek moyang/leluhur.

Mabusung dalam tulisan ini, dimaknai sebagai balasan atau imbalan dari ketidak patuhannya terhadap pappaseng. bagi orang-orang yang melanggar beberapa pappaseng dari orang tua atau dari leluhur, akan mendapat imbalan yang setimpal dengan perbuatannya. Mabusung lebih dekat dengan suatu konsep yang magis, karena didalamnya juga memberikan isyarat dan aroma durhaka, atau sesuatu yang dikutuk dan terkutuk.
Pemmali atau Tabu: Pantangan dan Larangan

Pemmali dalam sistem kehidupan orang Bugis mempercayai konsep pemmali sebagai sebuah larangan dan pantangan jika melakukan hal yang diluar etika yang dijunjung bersama sebagai orang Bugis dan Makassar.
Nilai Pappaseng Sebagai Sumber Kesadaran Hukum
Pappaseng sebagai sumber hukum yang berlaku di masyarakat Bugis dan Makassar, sebenarnya telah banyak di ulas pada beberapa poin di atas. Adapun sumber hukum adat bisa dilihat dari kebiasaan adat, atau adat kebiasaan, yurispendensi, norma-norma hukum islam, kitab-kitab hukum adat, buku-buku standar tentang hukum adat, dan pendapat ahli tentang hukum adat inilah yang disampaikan oleh Welbron dan Kenbron.

Baca Juga:Harapan Sandiaga Uno di Akhir Tahun

Selanjutnya, adapun yang dimaksud dengan adat kebiasaan, merupakan segala sesuatu gerak kerja tubuh maupun pikiran yang dilakukan dan telah menjadi sebuah kebiasaan. Setelah lama dilakukan, kebiasaan itu akan membentuk pola yang ada terkandung dan tertuang dalam pappaseng. Mengingat hukum Adat adalah hukum yang mencerminkan kepribadian dan jiwa bangsa, maka diyakini bahwa sebagian pranata hukum Adat sebagian tentu masih relevan menjadi bahan dalam membentuk sistem hukum Indonesia. Hukum Adat yang tidak lagi dapat dipertahankan akan senyap dengan berjalannya waktu, sesuai dengan sifat hukum adat yang fleksibel dan dinamis (tidak statis). Savigny sebagaimana dikutip oleh Soepomo menegaskan bahwa Hukum Adat adalah hukum yang hidup, karena merupakan penjelmaan perasaan hukum yang nyata dari rakyat. Sesuai fitrahnya sendiri, hukum adat terus menerus dalam keadaan tumbuh dan berkembang seperti hidup itu sendiri

Pappaseng Sebagai Asas Hukum
Pappaseng yang dimaksudkan sebagai asas hukum merupakan wujud perpaduan antara pappaseng sebagai sumber, juga antara pappaseg sebagai penguat karakter dari orang-orang Bugis maupun Makassar. Mereka menganggap pappaseng tidak hanya sebagai karya sastra, melaikan sebagai falsafah hidupnya. Oleh karena itu, pappaseng sendiri memiliki makna yang mendalam bagi kehidupan mereka sehari-hari.

Pappaseng sebagai Sumber Hukum
Pappaseng sebagai sumber hukum, dimaksudkan sebagai hal yang memiliki kaitan erat dengan kesadaran yang timbul dari masyaratnya sendiri. Artinya, kesadaran mengenai pappaseng yang mengatur pola prilaku manusia dalam konteks Bugis dan Makassar pendapat pengakuan langsung dari dalam masyarakatnya.

Pappaseng sebagai Sistem Nilai Budaya
Pappaseng merupakan salah satu bentuk pernyataan yang mengandung nilai etis dan moral, baik sebagai sistem sosial, maupun sebagai sistem budaya dalam masyarakat Bugis-Makassar. Dalam pappaseng terkandung ide yang besar, buah pikiran yang luhur, pengalaman jiwa yang berharga, dan pertimbangan-pertimbangan yang luhur tentang sifat-sifat yang baik dan buruk. Dari segi isinya, pappaseng sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal yang diyakini dapat memberikan sumbangsih dalam pembentukan karakter orang Bugis-Makassar.

Pappaseng dalam bentuk ada atau kata-kata, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Kemudian teraktualisasi dalam bentuk tindakan dan perbuatan seperti siri’, pappaseng dan pangedereng menjadi sumber nilai kesadaran hukum. Karena nilai-nilai utama yang terkandung dalam kebudayaan Bugis adalah: kejujuran (allempureng), kecendekiaan (amaccang), kepatutan (asitinajang), keteguhan (agettengeng), dan siri’ (harga diri, malu).

Dalam ujian promosi tersebut semua penguji mengaku kagum dan memberikan apresiasi yang cukup tinggi atas prestasi tersebut ditengah gejolak era modern yang serba digitalisasi seperti sekarang ini, masih ada orang yang berpikir seperti beliau dan berusaha menjaga nilai-nilai budaya melalui tulisan dengan judul yang luar biasa yaitu terkait dengan pappaseng yang merupakan suatu bentuk pernyataan dengan bahasa yang mengandung nilai etis dan moral, baik sebagai suatu system sosial maupun sebagai system budaya dari suatu kelompok masyarakat bugis sebagai sebuah falsafah hidup Bugis Makassar.

Baca Juga : Anggota DPR/MPR RI Kamrussamad Ingatkan Pentingnya Kebhinekaan dan NKRI

Judul disertasi ini muncul berdasarkan kegelisahan penulis atas banyaknya perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan adat istiadat atau pangadereng, pesan leluhur yang jauh dari makna: lempu, getteng, ada tongeng, sipakatau, sipakalebbi, sipakainge, mebbulo sipeppa, malilu sipakainge, mali siparappe, rebba sipatokkong, sebagai petuah sejarah orang bugis-makassar.

Dr. H. A. Singkeru Rukka, SE.,MH. adalah anak ke-4 dari 5 bersaudara, merupakan dosen tetap IAIN Sultan Amai Gorontalo, selalu tampak sederhana dan santun dalam bergaul, mempunyai hobbi masuk keluar hutan untuk berburu (mattemba’ manu-manu), koleksi pusaka (besi, badik, keris dan tombak) adalah kegemarannya yang menyatu dalam jiwanya, dengan prinsip akademik yang kuat dan menjadi prioritas dalam pencarian ilmu dengan memadukan ilmu hukum dan budaya Bugis Makassar sebagai bentuk kepribadian yang menyatu dalam karakter dirinya.

Editor: Hasanuddin (achank)

2
Leave a Reply

avatar
2 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] JAKARTA, SENAYANEWS.com – Legislator Gerindra yang juga anggota DPR RI, Kamrussamad menilai majunya putra dan menantu Presiden RI Joko Widodo, bukan merupakan gambaran politik dinasti. […]

trackback

[…] JAKARTA, SENAYANEWS.com – Di pengujung tahun 2019, Xiaomi mengeluarkan ‘senjata’ pamungkasnya yang bernama Redmi 8 untuk pasar Indonesia. senayanews berkesempatan untuk menjajal saudara Redmi 8A itu selama beberapa pekan kemarin. […]