oleh

Ibnu Sina, Bapak Dokter Moderen Yang Merasakan Detak Jantung Pasien

JAKARTA, SENAYANEWS.com – Dunia pengetahuan dan kedokteran tentu tidak asing dengan Ibnu sina, atau yang juga disebut Avicenna. Dia adalah penulis Qanun fi Thib atau Canon of Medicine dan Asy Syifa, yang menjadi rujukan utama pengembangan ilmu kedokteran modern.

Dikutip dari tulisan Ibn Sina (Avicenna): The Prince Of Physicians dari Samir S Amr dan Abdelghani Tbakhi, Ibnu Sina telah mempraktikkan ilmu kedokteran di usia belasan. Ibnu Sina, dengan izin Allah SWT, berhasil menyembuhkan Sultan Bukhara yang mengalami penyakit infeksi serius. Penyakit yang dialami raja bernama Nuh Ibn Mansour tersebut tidak dijelaskan detail.

Dengan keberhasilan ini, Ibnu sina  yang kala itu berusia 18 tahun memiliki reputasi yang sangat baik. Sebelumnya pada usia 10 tahun, ilmuwan asal Iran ini belajar semua jenis ilmu dan di umur 13 tahun mulai belajar kedokteran. Ibnu Sina juga belajar hukum, logika, ilmu alam, dan filsafat selama 6 tahun serta menamatkan Al-Qur’an di umur 10 tahun.

Baca Juga: Pemimpin Milenial Bonus Demografi Indonesia

“Kedokteran bukan ilmu yang sulit atau punya banyak rintangan seperti matematika dan metafisika, sehingga aku membuat banyak kemajuan. Selanjutnya aku bisa menjadi ilmuwan yang baik dan mulai menangani kasus penyakit. Tentunya dengan ilmu pengobatan yang telah terbukti baik untuk pasien,” kata Ibnu Sina dikutip dari tulisan yang dimuat di jurnal Annals of Saudi Medicine dan diunggah di situs US National Library of Medicine National Institute.

Sultan selanjutnya membuka akses perpustakaan kerajaan Samanid, sehingga Ibnu sina bisa belajar lebih baik. Setelah kejatuhan Samanid, Ibnu Sina pindah ke wilayah Jerjan dekat Laut Kaspia. Dia mengajar astronomi, logika dan menulis bagian pertama dari Canon of Medicine. Ilmuwan yang dipengaruhi Al-Farabi ini, juga sempat tinggal di wilayah Hamadan.

Di wilayah tersebut, Ibnu Sina berperan dalam kesembuhan Prince Emir Shams Al-Dawlah dari Dinasti Buyid. Sang pengeran mengalami kolik parah yang menyebabkannya menangis tanpa henti. Kondisi ini biasanya disebabkan kondisi pencernaan yang belum sempurna, perasaan tidak nyaman, atau kondisi lain yang mengakibatkan bayi menangis hingga lebih dari tiga jam sehari.

Dalam tulisan The Air of History (Part V) Ibn Sina (Avicenna): The Great Physician and Philosopher dari Rachel Hajar MD, Ibnu sina disebut menulis Qanun pada usia 21 tahun. Ilmuwan yang lahir pada 980 ini dikenal sebagai sosok religius dan mudah bersosialisasi dengan lingkungan sekitar Namun Avicenna juga sangat suka belajar, serius, dan menghabiskan banyak waktunya untuk menulis.

Baca juga: Sandiaga Salahuddin Uno Berharap BUMN Ke Depan Menjadi Benteng Perekonomian Bangsa

Semua prinsip pengobatan dalam Canon 10 abad lalu masih diajarkan hingga kini, antara lain di UCLA dan Yale University, sebagai bagian dari sejarah pengobatan. Kontribusi luar biasa Avicenna adalah pada kemampuannya mengenali sifat TBC yang menular, penyebaran penyakit melalui air dan tanah, serta hubungan antara kesehatan dan kondisi mental. Dia juga menjelaskan metode farmasi dengan menerangkan 760 jenis obat, yang menyebabkan bukunya menjadi rujukan utama.

Berikut cerita singkat praktik pengobatan dan capaian dari dokter jenius ini yang meninggal pada 1037.

1. Ibnu Sina sebagai psikolog

Dalam tulisan yang dimuat di jurnal Heart Views dan diunggah di situs US National Library of Medicine National Institute, Ibnu sina  kerap menggunakan pendekatan psikologi untuk menangani kasus pasien. Dia disebutkan pernah menghadapi kasus seorang pangeran Persia yang malnutrisi dan mengalami melancholia. Pangeran menolak makan dan punya delusi dia adalah seekor sapi.

Sang pangeran diceritakan mengeluarkan suara mirip sapi menangis dan ingin disembelih supaya dagingnya bisa dibuat sup. Ibnu Sina yang melihat kasus tersebut kemudian mengirim seorang tukang sembelih hewan karena dia ingin pangeran bahagia. Tukang sembelih kemudian memposisikan pangeran mirip sapi yang hendak disembelih, sementara Ibnu Sina ikut mendekatinya sambil membawa pisau.

“Sapi ini terlalu kurus dan tidak siap dipotong. Sapi harus diberi makan yang cukup supaya cukup sehat, gemuk, dan bisa disembelih,” kata Ibnu Sina yang saat itu seperti hendak menyembelih sapi.

Baca Juga: Sandiaga Uno Turut Melayat di Rumah Duka Ibunda Kamrussamad

Mendengar keterangan tersebut, sang pangeran dikisahkan langsung makan secukupnya dan perlahan kembali sehat. Dia juga tak lagi mengalami delusi sebagai sapi dan sembuh sepenuhnya.

2. Ibnu Sina dan detak jantung

Ibnu sina  memberi perhatian khusus pada detak jantung dan bagaimana mengartikan kondisi organ vital tersebut. Memeriksa detak jantung merupakan metode paling tua, sederhana, dan paling informatif.

“Setiap denyut nadi terdiri atas dua gerakan dan dua jeda. Alurnya adalah ekspansi, jeda, kontraksi, jeda,” tulis Avicenna dalam The Canon.

Ibnu Sina menulis 10 karakter denyut nadi yang bisa menjadi indikasi adanya gangguan pada fungsi jantung. Kemajuan teknologi selanjutnya membuktikan denyut jantung yang dibaca dengan teliti berperan besar dalam penegakan diagnosa. Ibnu Sina juga menulis buku seputar pengobatan jantung yaitu Al-Adwiyat Al-Qalbia atau Avicenna’s Tract on Cardiac Drugs and Essays on Arab Cardiotherapy.

Baca juga: Rakerda DPD Gerindra DKI Jakarta: Sandiaga Uno Gantikan Prabowo Berikan Sambutan

3. Detak jantung dan jatuh cinta

Pengetahuan tentang detak jantung yang ditulis Ibnu Sina, ternyata sempat menjadi inspirasi untuk mendeteksi penyakit karena jatuh cinta. Hal ini terjadi pada zaman Yunani saat detak jantung terasa meningkat saat sedang jatuh cinta, hingga dokter sempat mengira kondisi tersebut adalah penyakit. Meski jatuh cinta jelas bukan penyakit, namun kemampuan membaca detak jantung menjadi standar dokter yang bijak.

Dokter  yang banyak belajar seharusnya bisa membaca kebahagiaan dan kesedihan seorang pasien dari merasakan detak jantungnya. Denyut yang terasa di ujung jempol mengindikasikan kondisi jiwa saat itu,”

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] JAKARTA, SENAYANEWS.com – Pengusaha Habil Marati divonis 1 tahun penjara atas kepemilikan senjata api ilegal dan peluru tajam. kivlan zen menilai vonis tersebut terlihat dipaksakan. […]