oleh

Sumage : Kekuatan Jiwa Manusia Bugis

SENAYANEWS.com – Film sumange merupakan kekuatan jiwa manusia Bugis yang di sutradarai oleh Arul Virgo dan ide cerita oleh Andhy Mantra Bumi merupakan film yang sarat pesan moral bangsa Bugis. Film ini mengisahkan bagaimana manusia Bugis menyikapi kehidupan masa lalu dan masa sekarang, dimana mereka sangat taat terhadap pangadereng (norma/etika) yang telah diwariskan secara turun temurun dari para leluhur. 

Dalam film ini juga memberikan informasi kepada masyarakat pada umumnya bahwa lelaki Bugis dalam memperlakukan perempuannya sebagaimana mestinya harus berpegang teguh terhadap pangadereng (norma/etika). Perempuan Bugis adalah alebbireng (kemuliaan), dalam konsep siri dikenal siri makkunrai (harga diri dan kemuliaan perempuan).

Lelaki Bugis akan melindungi sekuat tenaga, bahkan rela bertaruh nyawa demi mempertahankan kemuliaan perempuannya. Dalam siri makkunrai merupakan suatu hal yang sakral dan membuat lelaki Bugis jika mati karena mempertahankan kemuliaan perempuannya, maka akan mate ri santangi yaitu mati dalam kemuliaan.

Namun, meskipun makkunrai (perempuan) adalah alebbireng (kemuliaan) sehingga mendapat kehormatan yang begitu agung, tidak akan menggunakan derajatnya itu untuk melakukan sebuah tindakan diluar batasannya yang akan menimbulkan rasa malu baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain begitupun terhadap uranena (lelakinya atau suaminya).

Baca juga: Jelang Natal dan Tahun Baru, Sandiaga Berbagi Kasih Di Panti Asuhan Bersinar

Kisah dalam film sumange ini adalah merupakan ide kreatif dari saudara Andhy Mantra Bumi yang sekaligus sebagai aktor utama, memberi penjelasan bahwa kisah ini bermula dari kegelisahannya melihat fenomena yang terjadi dewasa ini yang banyak melenceng dari peradaban dan pangadereng (norma/etika) manusia Bugis.

Manusia Bugis lambat laun telah beranjak meninggalkan paseng to riolo (pesan para leluhur). Bahkan menganggap pemmali (tabu atau pantangn dan larangan) adalah hal yang sudah tidak relevan lagi dengan kehidupan modern. Padahal paseng (pesan) pemmali tidak lain sebagai sebuah larangan dan pantangan jika melakukan suatu hal yang bertentangan dengan pangadereng (norma/etika) yang dijunjung bersama sebagai manusia Bugis.

Sementara paseng to riolo (pesan para leluhur) itu berasal dari pengalaman empirik pendahulu mereka yang dituangkan melalui tutur kata, karya sastra seperti puisi dan hikayat yang bertujuan tidak lain dan tidak bukan adalah agar manusia Bugis tetap arif dan bijaksana dalam menyikapi kehidupan masa kini dan yang akan datang, dimana manusia Bugis selalu bersinergi dengan alam, mahluk ciptaan lainnya dan kepada Tuhan sebagai Pencipta yang mempunyai haq atas segala sesuatu. 

Akhirnya mereka selalu terjaga dan saling menjaga satu sama lainnya dengan konsep Sipakatau (saling menghargai, saling memanusiakan), sipakalebbi (saling memuliakan) , sipakainge (saling mengingatkan), karena bangsa Bugis itu memiliki peradaban yang sangat komplit yang wajib di pertahankan oleh generasinya.

Baca Juga:Kamrussamad : Anak dan Menantu Presiden Maju di Pilkada

Dengan hadirnnya film Sumange ini diharapkan mampu memantik kembali ingatan masa kecil bagi penonton yang lahir di era 50-an hingga 90-an. Dan menjadi sumber pengetahuan bagi penonton millenial yang sudah terkecoh oleh peradaban asing yang semakin jauh dari yang seharusnya.

Sumange merupakan kekuatan jiwa manusia Bugis. Sumange itu harus ada dan dijaga bagi setiap manusia. Karena tanpa sumange dalam diri manusia, maka manusia itu layaknya mayat hidup.

Film sumange ini diprodukai oleh 99 Pictures dan seluruh lokasi syuting berada di Kabupaten Bone, hal ini sekaligus sebagai media promosi daerah Kabupaten Bone yang memiliki slogan Bone MABESSA yang berarti pemurah dan juga merupakan akronim dari Visi Misi Bupati Bone yaitu (Mandiri, Berdaya Saing, dan Sejahtera).

Editor: achank

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of